BIROKRASI

Ini Dia Proses Pengurusan Paspor di Imigrasi Medan

Rabu, 7 Februari 2018 lalu saya mencoba salah satu pelayanan publik paling penting, yakni permohonan paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus di Jl. Gatot Subroto Medan untuk mengganti paspor saya yang sudah kadaluarsa.

Tidak seperti mengikuti pelayanan publik yang lain, ke imigrasi ini saya bersemangat untuk mengalami langsung pelayanannya karena berita-berita yang saya dengar bahwa pelayanan di Imigrasi sudah bagus bahkan sudah bisa online.

Saya tiba sekitar pukul 8.30 WIB. Sempat khawatir bakalan mengantri lama, karena orang menganjurkan untuk datang sebelum pukul 07.00 WIB. Namun saya pun tetap masuk karena kadung sampai.

Loket informasi terlihat jelas setelah memasuki gedung. Sayang, para pemohon mengantri tanpa mengikuti line antrian, padahal tali dan jalur antrian itu telah disediakan. Tetapi para pemohon malah melewati area antrian dan langsung mengerubuti dua petugas di meja informasi (situasi ini berbeda saat pengambilan paspor yang saya ceritakan di bagian akhir).

Saya pun ikut menempelkan diri di keramaian sambil mempersiapkan berkas syarat yang sudah saya ketahui dari internet. Adapun berkas yang harus dibawa adalah:
– KTP asli
– Kartu Keluarga Asli
– Akta Lahir atau Ijazah Asli
– Jika pendatang (bukan penduduk Medan, harus membawa berkas pendukung seperti Surat Asal, Surat Domisili dari kelurahan di Medan, Surat Keterangan Kerja.

Testimoni saya untuk pelayanan petugas informasi di sini, bagus dan cukup ramah. Setelah memverifikasi berkas, petugas memberi formulir untuk diisi beserta nomor antrian untuk pengambilan nomor antrian selanjutnya untuk foto dan wawancara.

Meja tempat pengisian formulir ternyata tidak mencukupi jumlah pemohon hingga beberapa orang termasuk saya harus menunggu giliran, plus tidak disediakannya pena untuk menulis seperi lazimnya yang terdapat pada bank-bank. Nantinya sekitar pukul 10.00 WIB baru meja pengisian formulir dan antrian pengambilan nomor foto bersih. Artinya hampir tidak ada pemohon baru yang datang.

Setelah mengisi formulir, saya pun mengantri untuk mengambil nomor antrian foto dan wawancara. Antrian ini juga tidak dilengkapi garis pandu antrian namun kesadaran pemohon terlihat lebih baik dengan berbaris satu garis. Meski diberi nomor antrian, tampaknya nomor itu tidak berlaku karena saya dan yang saya perhatikan beberapa pemohon lainnya juga tidak dipanggil berdasarkan nomor tetapi berdasarkan posisi berdiri di antrian. Walaupun begitu, pelayanan petugas sangat ramah dan tidak lama. Pada waktu itu yang melayani petugas wanita.

Setelah mendapat nomor antrian untuk pengambilan foto dan wawancara, pemohon dipersilakan menunggu di kursi yang disediakan. Fasilitas minimum diruang tunggu lengkap, seperti nomor panggilan elektronik, layar informasi digital dan televisi. Hanya saja jumlah bangku lagi-lagi tidak mencukupi jumlah pemohon sehingga saya dan beberapa pemohon harus menunggu giliran untuk duduk ketika ada pemohon lain yang beranjak dari kursinya. “Hilang bokong, hilang tempat” itu statement lucu kuno yang saya dengar di Medan.

Nomor antrian ternyata dibedakan. Sepengetahuan saya, pemohon online dan pemohon offline diberi kode yang berbeda. Saat itu saya mendapat nomor A-102 sementara nomor-nomor yang tertera papan elektronik di loket bagian dalam masih A-004 hingga A-013, tetapi saya dengar seorang petugas memanggil nomor interval, seperti A-030 hingga A-050 untuk masuk ke bagian dalam. Kemudian pemohon online dipanggil juga tetapi petugas hanya membawa masuk map berisi berkasnya sementara pemohonya dipersilakan kembali duduk menunggu. Ternyata nomor antrian di layar digital tidak berlaku. Saya pun tidak ambil pusing karena sibuk mengetik catatan ini di telepon pintar saya sambil menunggu dipanggil.

Akhirnya 10.20 WIB interval nomor antrian saya dipanggil. Berkas pun dibawa petugas ke dalam sementara para pemohon masih harus menunggu giliran di ruang tunggu. Iseng bertanya kepada pemohon yang disebelah saya, ternyaya nomor antriannya yang puluhan nomor di dean saya belum juga dipanggil. Saya pun hanya bisa menjilati bibir yang mulai kering dengan hati kesal karena baterai ponsel saya–si pembunuh waktu–mulai drop ke dua puluhan persen. Untung di sana disediakan “stasiun pengisian daya”, rak khusus untuk mencas ulang baterai ponsel.

11.00 WIB akhirnya nana saya dipanggil beserta sekitar selusin orang lainnya. Kami pun diajak masuk ke ruang pemotretan dan wawancara secara bergantian. Beruntung pula saya orang yang pertama dipersilakan masuk. Perekaman sidik jari dan pengambilan foto wajah yang diawali pertanyaan singkat, “Mau berangkat kemana?”, hanya berlangsung sebentar. Saya pun diberikan lembar pengantar pembayaran ke bank sebesar Rp355.000,- untuk paspor biasa 48 halaman (Paspor 24 halaman ternyata hanya untuk TKI yang biayanya cuma 100.000 belum termasuk biaya administrasi). Pembayaran bisa dilakukan di bank manapun dan passport dijanjikan 3 hari setelah pembayaran.

Meski demikian, saya baru bisa datang kembali pada hari Selasa, alias hari kerja kelima setelah pembayaran yang saya lakukan di hari Rabu itu. Loket pengambilan paspor berada di posisi paling depan ketika kita masuk ke gedung. Saya melihat antrian untuk pelayanan informasi hari itu sudah rapi mengikuti tali batas antrian. Tidak seperti Rabu yang lalu.

Ternyata saya kurang memperhatikan informasi yang ditempel di kaca loket, pengambilan paspor baru dilayani pukul 10.00-16.00 WIB dipotong jam istirahat. Namun saya yang datang sekitar pukul sembilan ketika itu tetap bisa memindai barcode yang ada di tanda pembayaran pengurusan paspor yang diberikan setelah selesai berfoto dan rekam sidik jari. Mesin pemindai ada di sebelah loket pengambilan paspor. Struk nomor antrian pun keluar sesaat setelah pemindaian. Nomor 24. Nama-nama pengambil paspor yang sudah mendapat nomor antrian pun langsung tampil di layar informasi yang terpasang di samping loket. Berhubung masih ada waktu setengah jam sebelum loket dibuka, saya sempatkan ke tempat lain untuk urusan lain.

Pukul 11.00 WIB saya kembali lagi dan mendapati bahwa nomor antrian sudah sampai ke nomor 103. Suasana lengang dan antrian di layar informasi hanya tinggal sekitar 8 orang. Saya pun langsung bertanya ke petugas loket apakah nomor antrian yang sudah lewat harus mengambil antrian ulang? Ternyata petugas menjawab, “Tidak” dan mempersilakan saya menunggu pemohon yang sedang dilayani di loket saat itu selesai. Kemudian saya pun dipanggil.

Menyerahkan bukti pembayaran dan nomor antrian, saya hanya menunggu dua-tiga menit untuk menerima paspor saya yang baru untuk lima tahun ke depan. Tidak rumit, tidak lama, tidak mahal. Kantor Imigrasi patut diberi apresiasi. (Berg)

Please follow, like, and share this page:

5 COMMENTS

    • salam, mohon maaf boleh langsung ditanyakan ke Imigrasi. penulis hanya menyampaikan pengalaman pribadi terkait pengurusan paspor dan belum pernah mengalami paspor hilang seperti kang Dede. Terima kasih telah mengunjungi web ini.

    • Datang aja ke kantor imigrasi yg menerbitkan paspor kita sebelumnya
      Tp kalau paspor hilang dikenakan denda 1 juta rupiah
      Soalnya punya nenek saya begitu

Leave a Reply to Ayunigtiastuti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *