PENDIDIKAN

Roller Coaster Itu Bernama: New Zealand Scholarship (Bagian 1)

Jika Anda menyukai pendidikan lanjutan atau terpaksa karena karir lalu tertarik mengecapnya di luar negeri, maka beasiswa adalah solusi ideal sekali pun Anda mampu untuk membiayainya secara mandiri. Kurang lebih, itulah yang saya alami, tidak termasuk soal biaya mandiri itu, hehe…

Sayangnya informasi seputar beasiswa yang saya cari, relatif terbatas. Sebagai seorang yang sedang memburu sesuatu hal asing tentu haus akan informasi bahkan yang sekecil-kecilnya atau hal yang sepele menurut orang lain.

Tidak banyak awardee (penerima beasiswa) dan applicant (pelamar beasiswa) yang menulis pengalamannya di blog atau website. Jika pun berhasil dihubungi secara personal, informasi yang diberi menurut saya relatif minim. Entah karena ogah, enggan, sibuk, atau karena sulit merangkai kata. Padahal bagi seorang yang bertipe well prepared, ada 1001 pertanyaan di kepala saya yang butuh jawaban agar bisa memetakan secara detil perjalanan yang akan ditempuh di depan sana. Sebagai perumpamaan, kadang saya bertanya tentang kondisi traffic di kilometer 20 saat saya masih baru memasuki pintu masuk tol. Yah, begitulah faktanya… Sehingga tak heran jika ada yang berkomentar, “Fokus masuk dulu mas, ke pintu tol itu.” hahaha…

Pengalaman itu membuat saya bertekad untuk membagi informasi sebanyak-banyaknya, apa yang saya tahu, kepada siapa saja yang membutuhkan. Kebetulan saya cuma pernah mencoba Australia Awards Indonesia (AAI) dan New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS), masing-masing dua kali, jadi hanya itu yang bisa saya share.

Okay, postingan ini saya simpan berbulan-bulan setelah lolos seleksi tahap pertama NZAS karena takut tidak benar-benar lulus. Orang bilang, “Sebelum duduk di pesawat menuju New Zealand, artinya belum benar-benar lulus.” karena perjalanannya memang cukup panjang. Saya menyebutnya seperti naik wahana roller coaster, naik-turun mendebarkan dada, mengayunkan emosi. Selanjutnya saya akan cerita bagaimana pengalaman saya “naik-turun” mulai dari seleksi hingga minggu-minggu awal keberadaan saya di Wellington, New Zealand.

 

AAI dan NZS

AAI (banyak orang menyebutnya AAS, Australia Awards Scholarship, sebelumnya malah ADS, Australia Development Scholarship) dan NZAS mungkin beasiswa yang populer di Indonesia setelah beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Saya sendiri memilih AAS dan NZAS (sekarang menjadi NZS) karena dua beasiswa ini fair enough, tidak diskriminasi terhadap usia dan IPK. Ya, mungin tipikal pemikiran orang-orang barat: “It is about what you can do, not who you are”. Beasiswa Indonesia pada umumnya membatasi usia 35 tahun dan IPK 3,0 untuk pelamar program master. Maksudnya, apa? Orang “lanjut usia” tidak berhak mendapat kesempatan? Hehehe… Trus IPK juga sangat relatif antara satu kampus dengan kampus yang lain. Antara perguruan tinggi negeri dengan swasta, bahkan antara perguruan tinggi negeri di pulau Jawa dengan di Sumatera. So, “diskriminasi” lagi? hihi…

Pengalaman saya dengan AAI kurang bagus. Kalah dua kali dalam dua kali percobaan. Kalau petinju, rekornya langsung Win: 0, Draw: 0, Lose: 2 (100% gagal), ahay… Dua-duanya ditolak di seleksi berkas. Kita tidak pernah tau apa alasannya, hanya bisa menebak-nebak. Padahal permintaan berkas AAI lebih banyak dari NZAS. Esai pun saya anggap sudah matang, sudah dibolak-balik biar panasnya merata (masakan kalee). Dugaan saya karena catatan akademik yang kurang mengkilap. Sertifikat bahasa inggris yang saya punya pun hanya TOEFL, pas-pasan pula. Maklumlah, IELTS mahal, Pak.

Untuk melihat informasi seputar AAI, kamu bisa kunjungi http://www.australiaawardsindonesia.org. Pada artikel ini saya cuma bercerita tentang NZAS alias NZS saja, ok.

 

Mendaftar

Baiklah saya mulai kisah perjalanan merengkuh New Zealand Scholarship (aih, bahasanya). Perlu diperhatikan bahwa prosedur dan mekanisme penerimaan cukup dinamis, bisa berubah-ubah, sesuai kebijakan panitia pelaksana. Informasi yang akan saya tuturkan di sini adalah proses seleksi di tahun 2018. Ada perubahan signifikan sejak tahun 2017, seperti psikometri sebelumnya tidak ada. Untuk 2019 penyebutan programnya sendiri menjadi New Zealand Scholarship (NZS). Kata ASEAN tidak lagi dicantumkan, entah kenapa belum sempat riset hehe… Dengan demikian berarti pengategorian beasiswa New Zealand mulai 2019 menjadi satu untuk seluruh dunia (global) tidak dipisah-pisah seperti sebelumnya. Maka untuk selanjutnya saya menyebut NZS saja.

Periode pendataran NZS biasanya dimulai pada tanggal 1 Februari – 15 Maret setiap tahunnya (untuk 2019 sampai tanggal 14 Maret) Informasi lengkap bisa dilihat di https://www.mfat.govt.nz/en/aid-and-development/new-zealand-government-scholarships. MFAT itu adalah Kementerian Luar Negerinya New Zealand (Ministry of Foreign Affairs and Trade). Jadi beasiswa ini berasal dari program pemerintah New Zealand yang dilaksanakan oleh MFAT. Semua proses dilakukan secara online di portal realme.govt.nz.

 

Syarat dan Tahapan

Waktu saya mendaftar di tahun 2018, syarat minimum untuk program magister adalah:

  1. Warga Negara Indonesia
  2. Usia diprioritaskan dibawah 39 tahun (untuk 2019 menjadi 40 tahun)
  3. Skor IELTS minimal 6.5, TOEFL IBT 90, PTE 58 (saya cuma punya TOEFL ITP dan diterima)

Dokumen yang harus di-upload adalah:

  1. Sertifikat bahasa Inggris (IELTS/TOEFL)
  2. Transkrip nilai yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh lembaga bersertifikasi (waktu itu dokumen saya di-translate oleh IDP dan diterima)

Simpel, ya? NZS mah gitu. Gak neko-neko. Waktu yang diberikan juga relatif lama, sekitar 45 hari. Tetapi jangan terlena, sisbro. Tanpa terasa batas waktu itu sudah tiba aja. Mulailah mengisi form sejak awal-awal masa pendaftaran dibuka karena menulis esai akan membutuhkan waktu lama. Lama karena kita harus membaca ulang, merevisi, dan merevisi lagi. Karena esai itu adalah senjata utama kita untuk diterima. Penilaian beasiswa ini subyektif. Kalau argumen kita disukai tim penilai, maka loloslah kita ke tahap selanjutnya. Itu menurut hemat saya ya, silahkan gak setuju… hehe

Tahapan proses penerimaan NZS itu secara umum begini (selalu ada perubahan sesuai perkembangan zaman):

  • Tahap I: pengiriman berkas online
  • Tahap II: tes psikometri online
  • Tahap III: wawancara (offline/online)
  • Tahap IV: tes IELTS
  • Tahap V: pre departure briefing dan english refreshment

Jadi perjalanannya panjang, guys! Butuh kesabaran panjang selain usaha keras. Dalam rentang waktu lebih setengah tahun itu mungkin kita uring-uringan. Menunggu tanpa kepastian. Rencana-rencana di kehidupan nyata pun sedikit banyak terganggu. Semuanya menunggu “email jantungan”. Hehehe… Saya menyebutnya begitu, karena setiap kali email bertajuk “New Zealand Scholarship” muncul di notifikasi ponsel, saya merasa jantung saya berdegup lebih keras saat membukanya. Antara menerima good news atau bad news. Bedanya cuma di kalimat “your application has successfully made it through” atau “your application was unsuccesful“.

 

Lihat tips menulis esai di sini> Kiat Membuat Esai untuk Beasiswa

 

Okay, lanjut. Biasanya kita takut memencet tombol “submit” karena khawatir esai gak impresif. Saya sendiri butuh waktu lama untuk menimang-nimang isian bahkan di-edit berulang-ulang. Apalagi masih trauma ditolak di tahun 2017. Kalau teman-teman mau submit, jangan terlalu mepet ke tanggal deadline, takutnya lalu lintas ke server mereka padat merayap atau bahkan bermasalah. Saya pernah mengalaminya saat submit di tahun 2017, server down di hari terakhir dan saya belum submit! Untungnya mereka buru-buru buat pengumuman bahwa waktu mendaftar diperpanjang karena ada kendala teknis. Saya pun kemudian berhasil submit dan sukses gagal ke tahap selanjutnya. Bah…


Pre Departure Briefing para awardee di Jakarta, Desember 2018

 

_______

Ikuti pengalaman saya naik “roller coaster” di tulisan selanjutnya

Untuk kontak saya langsung bisa melalui:

fb: Bergman Siahaan, email: bergmansiahaan@gmail.com

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *