PENDIDIKAN

Roller Coaster Itu Bernama: New Zealand Scholarship (Bagian 2)

Sambungan dari “Roller Coaster Itu Bernama: New Zealand Scholarship (Bagian 1)

 

Psikometri

Pendaftaran pun ditutup pada 15 Maret 2018 pukul 24.00. Ingat, waktu New Zealand, bukan waktu Indonesia. Jadi jangan sampai ketinggalan kereta, bro… Waktu di sana itu adalah +13 dari GMT, berarti 6 jam lebih cepat dari WIB.

Pada tanggal 3 April 2018 (19 hari sejak penutupan pendaftaran) saya menerima “email jantungan” pertama. Biasanya mereka mengirim email pada dini hari waktu Indonesia, karena di sana kira-kira pukul 10.00-11.00. Jadi pagi-pagi pas bangun tidur ku terus liat hape, ada notifikasi email. Jantunganlah. Shocking morning, Bro! Kalau berita gembira, happy-lah bawaannya hari itu. Kalau berita buruk, suntuklah berhari-hari.

Dan ternyata email pagi itu adalah good news!!!Your application has succesfully made through our initial screening“. Yes! Seneng banget, dong… Langsung cari isteri ke dapur buat ngasitau kabar gembira itu. Maklumlah, tahun sebelumnya saya kalah di seleksi berkas jadi lolos berkas itu suatu pencapaian bagi saya, walaupun sebenarnya jalan masih panjang. Itulah gaya melambung yang menuju puncak lintasan roller coaster saya yang pertama setelah sebelumnya merayap lambat menanjak perlahan.

Oke, di email itu saya diberitahu untuk menunggu email berikutnya tentang tes psikometri online. Waktu dan link akan diberitahu kemudian. Psikometri adalah bagian dari psikotest dan tes ini baru diberlakukan sejak 2018. Jadi saya adalah rombongan applicant pertama yang menjalani itu. Di google saya menemukan situs-situs yang memberikan contoh soal gratisan, bahkan ada juga yang berupa simulasi. Saya cobainlah soal-soal itu sambil menunggu email berikutnya datang.

Applicant diberi waktu 14 hari untuk melakukan tes psikometri online. Setelah link-nya dikirim, saya pun mencari waktu yang pas untuk ujian. Saya lupa mencatat jumlah soal. Kayaknya sekitar 60an kalau tidak salah, yang terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama berupa gambar dan yang kedua mengenai kepribadian.

Psikotes sebenarnya tidak bisa dihapal. Semua soal akan berbeda dan tidak ada jawaban yang benar-salah. Paling-paling kita cuma perlu tau sistem kerjanya aja. Selebihnya jiwa kita yang jadi jawabannya. Ketekunan, ketelitian, dan ketahanan untuk berkonsentrasi yang menjadi kunci penting.

Tes psikometri yang saya lalui itu tidak memiliki batas waktu pengerjaan soal. Hanya saja, disebutkan waktu rata-rata orang menyelesaikannya. Misalnya pada satu bagian disebutkan bahwa rata-rata orang mengerjakannya dalam 12 menit dan ternyata saya menyentuh angka 16! Saya piker, jika terlalu lama mengerjakan mungkin akan jadi penilaian negatif, karena dianggap lamban atau sulit mengambil keputusan. Pemberi beasiswa tentu menginginkan pelajar yang ulet dan calon pemimpin yang tangguh di masa depan. Mungkin itu terbaca dari hasil psikometri. Masa sih ya, saya seperti itu…?

 

Interview

Selepas tes psikometri saya pun kembali pada kondisi harap harap cemas menunggu hasil. Jika lulus maka tahap selanjutnya adalah interview. Penantian satu setengah bulan yang membuat kerja jadi gak menentu, akhirnya berakhir pada 29 Mei 2018 saat “email jantungan” lain datang. Isinya mereka sangat senang menyampaikan bahwa proses beasiswa saya sampai pada tahap selanjutnya yaitu wawancara! Bahasa Inggris kan ekspresinya lebih dramatis, jadi perasaan saya kembali shock, hehe… Saya pun berada di puncak lagi.

Rasanya satu kaki sudah menginjak gedung kedutaan besar New Zealand. Hati semakin berbunga-bunga padahal nantinya masih akan ada pelamar yang gugur di sesi interview (saya tak dapat datanya berapa). Saya cuma berpikir positif aja sambil menjaga asa, selebihnya saya serahkan pada Tuhan, apa rencana terbaik-Nya untuk saya.

Interview pun dijadwalkan pada 4 Juli 2018 siang, pas di hari kemerdekaan Amerika Serikat (gak ada hubungannya tapi). Pertengahan bulan Juni tim beasiswa menelepon saya untuk menanyakan apakah wawancara ingin dilakukan tatap muka di Jakarta atau via video call. Karena biaya transportasi ke Jakarta tidak disediakan, saya memilih video call yaitu menggunakan aplikasi Skype. Maklum ASN, gak punya banyak cadangan dana yang liquid, Bu.

Itung-itung, saya punya waktu sekitar sebulan untuk mempersiapkan wawancara. Apa yang perlu dipersiapkan? Lagi-lagi gak ada panduan dan aturannya. Semua hanya rekaan berdasarkan pengalaman para applicant terdahulu. Saya ceritain di link berikut:

Sambil menunggu, saya ingat-ingat tanggal keramat 4 Juli 2018 itu. Astaga… Itu tanggal pertandingan Piala Dunia dimana Inggris akan bertemu Kolombia di babak enam belas besar! And I am a big fan of England in my whole life! OMG… Kacau sudah. Padahal kata orang-orang menghadapi interview itu kondisi harus fresh supaya lebih bisa konsentrasi dan pikiran jernih untuk mengingat dan menyusun kata. Supaya fresh maka harus cukup tidur. Sementara pertandingan itu akan ditayangkan live pada pukul 01.00 hingga 03.00 WIB! Manteb…

Setelah bergumul, demi cita-cita dengan pertaruhan keluarga, saya pun rela mengorbankan laga timnas favorit itu, bahkan pertandingan yang dimainkan pada H-2 pun saya lewatkan agar bisa istirahat dengan cukup menjelang interview. Padahal saking gila bolanya, sebelum itu saya menonton hampir semua pertandingan sejak babak penyisihan. Untungnya Inggris menang atas Kolombia dan lanjut ke babak perempat final. Lega…

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya sudah izin ke kantor untuk tidak masuk sejak pagi agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya. Interview dimulai sekitar pukul 15.00 WIB via Skype. Done! Perasaan, bahasa Inggris saya ancur… Belepotan. Namun tak ada lagi yang bisa saya lakukan. Semua tergantung penilaian tim beasiswa atas seizin Yang Maha Kuasa. Saya cuma bisa menunggu hasilnya. Pewawancara bilang, hasil akan disampaikan dalam dua sampai empat minggu melalui email. Saya menunggu dan berdoa… Melewati satu minggu rasanya berat. Kereta roller coaster itu mulai menuruni lintasan. Terus menuju titik lebih rendah dan lebih rendah. Antara harapan dan kenyataan. Harapan untuk diluluskan dan kenyataan bahwa wawancara saya kurang menggigit.

Ilustrasi: newzealand.com

_______

Ikuti pengalaman saya naik “roller coaster” ini di tulisan selanjutnya

Untuk kontak saya langsung bisa melalui:

fb: Bergman Siahaan, email: bergmansiahaan@gmail.com

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *