SOSIAL & BUDAYA

Pemaksaan Sosial

Sering terdengar himbauan untuk bergabung dan taat pada suatu perkumpulan. Entah itu perkumpulan adat atau agama. Biasanya nggak jauh-jauh dari dua unsur SARA itu. Alasan (lebih tepatnya: ancaman) yang rajin dilempar ialah: “Kalau ada musibah atau kemalangan, siapa yang menolong kalian?”.

Benar sekali bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Zoon politicon, kata Aristoteles. Homo homini socius, kata Adam Smith. Manusia akan butuh orang lain dalam interaksi kehidupannya. Tidak ada manusia normal yang kuat hidup seorang diri. Penggambarannya sempurna di film Castaway, dimana Tom Hanks yang memerankan Chuck Noland terdampar seorang diri di sebuah pulau. Saking stresnya, ia pun membuat benda-benda menjadi teman fiktif untuk diajak bicara. Begitu juga dengan tokoh Dr. Robert Neville yang diperankan Will Smith di film I Am Legend. Dengan skenario tinggal sendiri di kota New York yang terpapar virus zombie, ia menganggap manekin-manekin sebagai manusia hidup untuk sekedar diajak bicara.

Dalam keadaan mental sehat, pastilah orang akan mencari temannya sendiri. Para teman itu terangkai dari benang merah akan kesukaan, kenyamanan, atau kebutuhan yang sama. Seleksi alam akan memformasikan teman-teman di sekeliling setiap individu. Mana yang ia rasa senang, nyaman, dan cocok di hati. Diantara sekian banyak motif berteman, fungsi tolong-menolong adalah salah satu yang utama. Sehingga kalau butuh bantuan, misalnya sakit atau masalah ekonomi, ada yang diharapkan datang menolong. Paling parah lagi, kalau mati, siapa yang menguburkan?
Hanya saja tuntutan untuk masuk ke dalam jaringan sosial yang nyaris tak beririsan dengan pribadi seseorang adalah sebuah pemaksaan.

Tanpa benang merah akan pandangan, perilaku, atau bahasa yang serasi, individu-individu itu harus dijahit menjadi seikat. Kenapa harus X, Y, dan Z yang dititahkan untuk membantu kita pada acara-acara tertentu? Kenapa tidak boleh si A, B, C yang memiliki chemistry dengan kita selama ini? Hanya karena X, Y, Z seagama atau semarga? Inilah primordialisme. Padahal orang-orang yang paling penting dan dibutuhkan seorang manusia itu adalah orang yang “terdekat”, bahkan belum tentu saudara bertalian darah. Entah mereka terdekat secara lahiriah atau terdekat secara batiniah.

Coba trivia quiz ini: Siapakah yang pertama menolong saat terjadi kebakaran? Tetangga sebelah rumah. Siapa yang lebih dulu membantu pekerjaan hingga karir? Rekan kerja atau sejawat. Siapa yang paling cepat memberi bantuan finansial saat dibutuhkan? “Sahabat”. Walau pun bisa saja ia adalah saudara yang memang berperan sebagai sahabat selama ini.

Jadi penolong sesungguhnya adalah pribadi berdasarkan peran nyatanya di kehidupan sehari-hari, bukan berdasarkan status yang disandangnya.

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *