SOSIAL & BUDAYA

Rasisme, Antara New Zealand dan Indonesia

Trade Me adalah portal e-commerce populer di New Zealand (Selandia Baru). Trade Me bisa disejajarkan dengan Bukalapak dan OLX di Indonesia dengan mekanisme yang sedikit berbeda. Bukan hanya jual-beli barang, Trade Me juga menjadi media periklanan jasa, salah satunya adalah informasi flatmates atau teman berbagi tempat tinggal. Pada pertengahan bulan September 2019, sebuah iklan flatmates dihapus oleh pengelola Trade Me karena mengandung unsur SARA. Berita ini dimuat NZ Herald pada  20 September 2019. Apa pasal?

Si pembuat iklan menawarkan sebuah kamar kosong untuk disewa dengan keterangan: “Not pet, smoker, or Indians!”. “Not pet” dan “No smoker” sudah jamak disebut dalam iklan-iklan rumah atau flat, tetapi kata “orang India” membuat iklan tersebut dianggap melakukan diskriminasi ras.

Undang-undang

New Zealand sendiri memiliki undang-undang hak azasi (Human Rights Act 1993 No. 82) yang telah diamandemen pada tahun 2012. Undang-undang ini menjamin hak setiap orang di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Undang-undang ini memberikan kebebasan siapa pun di New Zealand untuk menjalankan ibadahnya, melakukan adat-istiadatnya, dan menggunakan bahasa daerahnya. Tidak boleh ada seseorang yang melecehkan orang lain karena warna kulit, aksen, pakaian, atau pun makanan. Anak-anak di sekolah sudah ditanamkan sejak dini untuk tidak membedakan ras, budaya dan agama, apalagi mempermasalahkannya.

New Zealand pada mulanya hanya dihuni suku Maori sebagai penduduk asli ditambah keturunan eropa yang disebut Pakeha. Namun kini New Zealand berkembang menjadi negara yang sangat multietnis dengan kedatangan para imigran dari berbagai belahan dunia. Dulu New Zealand hanya berkonsentrasi mengatasi permasalahan rasial antara Maori dan Pakeha, sekarang lebih kompleks dengan keberadaan 200 etnis dan 160 bahasa.

Serangan SARA terparah terjadi di Christchurch pada Jumat kelam bulan Maret 2019 ketika masjid disasar. Orang mungkin beranggapan bahwa New Zealand rasis terhadap minoritas. Tetapi faktanya, pelaku penembakan tersebut adalah orang Australia dan penduduk New Zealand menyatakan dukungan kepada umat muslim. Orang-orang berkumpul di lapangan-lapangan dan meletakkan bunga duka. Slogan-slogan “This is not us” dan “You are welcome” terpampang dimana-mana, menegaskan sikap rakyat New Zealand terhadap kebhinnekaan di negeri itu. Perdana Menteri Ardern—dalam pidatonya dari Wellington—menyatakan bahwa New Zealand adalah rumah bagi semua orang yang menjunjung keragaman, kebaikan, dan kasih sayang.

Ribuan orang berkumpul di lapangan Basin Reserve Wellington untuk bersimpati atas tragedi Christchurch

New Zealand memang tidak serta-merta steril dari perbuatan rasis. Akan selalu ada oknum yang melakukan kesalahan di mana-mana. Tetapi setidaknya pemerintah, swasta, dan masyarakat secara umum sedang mempraktekkan prinsip yang sama dalam melawan rasisme.

Masyarakat

Berdasarkan data di World Population Review, tercatat penduduk mayoritas di New Zealand adalah keturunan Eropa 74% dan Maori 14,9%. Selebihnya diisi oleh etnis Asia 11,8%, Pasifik 7,4%, dan Amerika Latin dan Afrika 1,2%. Sementara dari segi keyakinan, mayoritas penduduk New Zealand memeluk Kristen 44,3% kemudian Hindu 2,1%, Buddha 1,4%, Kristen Maori 1,3%, Islam 1,1% dan kepercayaan lain 1,4%. Proyeksi dari sensus yang dilakukan pada tahun 2013 itu juga mencatat penduduk yang tidak beragama sebanyak 38,5% dan yang tidak diketahui atau menolak untuk menjawab sensus sebanyak 4,1%.

Statistik menunjukkan bahwa India dan muslim adalah penduduk minoritas di New Zealand. Bagaimana pemerintah, swasta, dan masyarakat di New Zealand menyikapi rasisme, termasuk kepada kaum minoritas? Contoh untuk dua unsur sudah dijawab pada paragaraf di atas, yakni pemerintah menjalankan undang-undang hak azasi dan swasta—seperti Trade Me—menghapus iklan berbau SARA. Sikap masyarakat sendiri mungkin tergambar dari sebuah peristiwa rasis yang terjadi di atas kereta komuter pada 8 Agustus 2019.

Sekitar pukul delapan malam, kereta dari Wellington yang sedang dalam perjalanan menuju Upper Hutt dihentikan atas inisiatif kondekturnya. Apa yang terjadi? Beberapa saat sebelumnya, seorang penumpang wanita berteriak ke arah seorang penumpang yang berperawakan India dengan kata-kata “Go back to your country! Don’t speak that language here.” Kiranya wanita yang masih remaja itu tidak suka mendengar penumpang tersebut berbicara di telepon menggunakan bahasa India. Mengetahui insiden itu, sang kondektur—yang juga seorang wanita—menegur si remaja tetapi tidak digubris. Saat itu juga kondektur mempersilakannya untuk turun dari kereta.

Meski awalnya menolak, remaja wanita itu akhirnya turun juga setelah diancam akan dilaporkan ke polisi. Akibat insiden itu, kereta pun sempat terhenti selama dua puluh menit. Kepada media, kondektur beralasan bahwa dia harus menjamin kenyamanan semua penumpang dan bahwa tidak ada ruang untuk rasisme di atas keretanya. Tindakannya itu lantas mendapat pujian dan dukungan dari para penumpang kereta, juga netizen yang membaca beritanya di berbagai media, salah satunya di laman NZ Herald.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara kepulauan ini memiliki 1.340 etnis yang terdiri dari suku bangsa asli ditambah suku bangsa pendatang (Sensus BPS Tahun 2010). Berpenduduk mayoritas pemeluk Islam, Indonesia juga mengakui lima agama lain, yakni Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Apakah Indonesia memiliki undang-undang terkait rasisme? Ya, kita memiliki Undang-undang No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Undang-undang tersebut mengancam pelaku diskriminasi ras dan etnis dengan penjara maksimal lima tahun dan denda Rp 500 juta.

Apakah pemerintah sudah tegas dalam menindak pelaku rasisme? Bagaimana dengan pihak swasta dan masyarakat dalam menyikapi tindakan rasis? Apakah kita sudah menurunkan penumpang dari kereta atau bis jika ada yang melontarkan umpatan terhadap etnis tertentu? Apakah kita sudah menolak iklan sewa rumah atau kos-kosan yang mempersyaratkan etnis atau agama tertentu? Ah… Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin hanya memanen argumen dan memikat debat yang belum membuktikan komitmen memerangi rasisme. Tetap optimis. Kita pasti masih dalam perjalanan menuju ke sana.

“Inti rasisme adalah penegasan agamis bahwa Tuhan telah melakukan kesalahan kreatif dengan membuat manusia berbeda-beda.”

(Friedrich Otto Hertz)

 

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *