PROSA

Kunci Keharmonisan Rumah Tangga

Sisa uang semakin sedikit. Gaji berikutnya masih dua minggu lagi. Lelaki itu gusar. Mengingat beberapa bulan ini ia belum mendapat pekerjaan tambahan untuk menebalkan sakunya, ia pun semakin gusar. Kadang kala perasaannya sensitif, di lain waktu gairahnya menurun, karena nafkah keluarga hanya bergantung padanya seorang. Minggu berlalu. Tibalah hari dimana kantongnya benar-benar tipis. Hanya tersisa beberapa koin yang bahkan tak cukup untuk beli makan siang. Kepala Lelaki mulai berdenyut.

Di meja makan, Wanita yang disebut istri berucap, “Persediaan makan sudah habis, bisakah kita pergi belanja?”

Lelaki sedikit terkejut. Kegusarannya yang telah beberapa hari menggundah pun meletus dengan jawaban ketus, “Menyelesaikan semua tagihan tanpa berhutang saja sudah merupakan prestasiku bulan ini!”

“Ya sudah! Tidak ada lagi bahan makanan yang mau dimasak,” cetus Wanita pula sambil tetap melanjutkan makannya.

Lelaki kemudian menegur, “Mengapa kamu ngomong begitu? Mengatur makanan kan tanggung jawabmu? Uang belanja sebulan sudah kuberikan.”

“Kamu kan tau uang belanja yang kamu berikan itu kurang!” jawab Wanita sambil berdiri lalu pergi meninggalkan meja makan.

Perasaan Lelaki membuncah melihat sikap Wanita. Setengah membentak ia berkata, “Memang kalian para wanita! Bisanya merengut saat lelaki tidak punya uang. Bukannya menghibur ato memberi semangat… Lelaki itu wajar mudah tersinggung kalo tidak bisa bawa uang banyak ke rumah. Kalian harus paham itu. Jangan kalo ada uang aja, kalian baru manis!”

Mendengar itu Wanita kembali ke ruang makan. “Sikapmu itu yang membuat kesal! Tau gak? Aku kan bertanya baik-baik. Jawablah dengan baik-baik. Hei, wanita itu sudah terganggu emosinya kalo bahan makanan mulai menipis. Nggak apa-apa kalo gak punya perhiasan atau pakaian bagus. Tapi kebutuhan dapur itu membuat wanita sensitif. Harusnya kamu ngerti. Tidak punya uang bukan berarti boleh ketus!”

Tidak punya uang bukan berarti boleh ketus. Lelaki terkesan dengan kalimat itu. Ia lalu diam meredam gemuruh di dada. Ia tahu jika ia melanjukan percakapan ini, eskalasi amarah akan berlanjut dan tidak pula membawa kebaikan apa-apa. Lelaki pun merunut situasi yang baru terjadi di kepalanya seperti yang biasa ia lakukan kala mencari hikmah kehidupan.

Wanita marah karena terpancing bentakan Lelaki.

Lelaki membentak karena ia tersinggung sikap Wanita yang menggerutu kesal dan meninggalkannya di saat ia butuh dorongan semangat.

Wanita bersikap seperti itu karena kesal dengan sikap Lelaki yang ketus padahal wanita sudah menahan perasaannya sejak beberapa hari persediaan makanan menipis.

‘Ketus’ adalah kata kuncinya. Lelaki tidak bisa merunut lebih jauh lagi. Hanya kesimpulan menarik yang bisa ia ambil guna mencegah ketidakharmonisan rumah tangga di masa mendatang: “Tidak punya uang bukan berarti boleh ketus”.

Super sekali… Pikirnya. Setiap Lelaki harus bisa menjadi superhero untuk mempraktekkan ini. Lelaki merenung sambil mengunyah petai terakhir yang tadi sempat terjatuh ke lantai. Petai terakhir untuk minggu itu.

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *