PENDIDIKAN

Roller Coaster Itu Bernama: New Zealand Scholarship (Bagian 3)

Sambungan dari “Roller Coaster Itu Bernama: New Zealand Scholarship (Bagian 2)

Baca juga Gimana Sih, Interview NZS?

 

Dua minggu telah berlalu sejak tes wawancara. Selanjutnya saya semakin gelisah. Setiap hari menanti email dari NZS di ponsel saya yang tak kunjung tiba. Menjelang minggu keempat saya semakin uring-uringan. Kenapa begitu lama? Pikirku. Setiap pagi bangun tidur langsung buka ponsel berharap notifikasi berlogo Gmail terlihat. Karena saya mengikuti mailing list tentang beasiswa luar negeri, maka beberapa kali muncul email berjudul “Scholarship” yang membuat jantung deg deg ser. Ternyata bukan dari NZS.

Pada hari Minggu tanggal 29 Juli 2018, saya punya perasaan bahwa besoknya (Senin) pasti pemberitahuan dari NZS datang. Bangun pagi keesokan harinya, langsung unlock ponsel. Ternyata logo Gmail tidak muncul di area notifikasi. Pengumuman urung tiba, batinku. Saya pun berangkat mengantar putri dan isteri seperti biasa. Roller coaster terus melaju. Kadang naik, kadang turun. Harapan-harapan dang prediksi-prediksi yang dibuat sendiri yang menciptakan lintasan roller coaster imajiner itu.

Dalam perjalanan mengantar istri ke kantor, kami mampir di sebuah minimarket. Istri masuk ke dalam minimarket, di mobil saya menunggu sambil membuka ponsel. Ada logo Gmail! Saya buka dan benar dari NZAS! Sekejap ada rasa takut untuk membacanya. Takut jika kalimatnya berupa permintaan maaf karena saya tidak berhasil masuk ke tahap berikutnya. Tetapi ternyata sebaliknya. Isi email mengatakan saya lanjut ke tahap tes kemampuan bahasa Inggris!

Senangnya bukan main. Kayak baru menang lotere (padahal gak pernah ngalamin, hehe…). Penantian panjang terbayar sudah. Pengorbanan melewatkan laga timnas Inggris di Piala Dunia ternyata berbuah manis. Interview saya berhasil diterima meski menurutku kurang bagus. Perasaan melambung seperti baru melewati puncak rel roller coaster. Saatnya menatap tanjakan selanjutnya, yakni English Proficiency. Karena sesuatu dan lain hal, atas persetujuan MFAT, akhirnya saya mengikuti TOELF iBT Test yang diselenggarakan di kota sendiri yaitu Medan. Mengenai tes bahasa IELTS ataupun TOEFL kalian bisa cari tulisan dari sumber lain yang banyak di internet. Saya cuma bisa titip kesan bahwa tes ini tidak melulu tentang pemahaman bahasa, tetapi campuran dari kuis permainan kata, tes daya nalar, dan daya ingat.

Beberapa teman applicant bertanya, “Bagaimana caranya melewati tes wawancara?”. Saya sendiri tidak tahu. Hanya Tuhan dan tim penilai yang tahu. Paling-paling saya cuma bisa bilang, kuasailah hal-hal mendasar tentang pekerjaan, esai, dan New Zealand. Tentu saja yang terpenting adalah kondisi fisik dan mental yang segar sehingga bisa berkomunikasi dengan baik. Menurut saya, penilaian lebih bersifat subyektif. Silahkan jika tidak setuju, hehe…

English Proficiency

Untuk menghadapi tes TOEFL saya melakukan persiapan standar seperti membaca buku soal TOEFL iBT. Menurut saya ini penting bagi yang belum pernah ikut TOEFL/IELTS untuk beradaptasi dengan model tesnya, bukan dengan isi soalnya. Ada teman saya yang tidak melakukan persiapan sama sekali dan bisa mencapai skor minimal. Jangan ditiru yah hehehe… Rejeki orang beda-beda.

Hampir satu bulan berlalu, hari H pun tiba. 26 Agustus 2018. Saya menyelesaikan rangkaian tes dengan baik kecuali bagian Speaking. Gimana enggak, di TOEFL iBT itu peserta tes duduk dalam satu ruangan menggunakan headset dan sama-sama berbicara ketika diminta komputer. Konsentrasi saya buyar karena suara orang berbicara di sekeliling, sementara waktu berbicara di mikrofon terbatas. Itulah kelemahan jika berurusan dengan komputer, bukan manusia.

Roller coaster kembali melewati turunan yang curam dengan cepat. Saatnya melambat di tanjakan, menunggu hasil tes keluar. Ini merupakan penentuan terakhir, apakah saya menjadi preferred candidate, reserve, atau gugur? Apakah skor saya melewati batas minimum yang ditetapkan Victoria University of Wellington (VUW)? Preferred candidate adalah pelamar lulus sementara reserve adalah cadangan jika yang preferred candidate batal karena sesuatu hal. Pihak TOEFL sudah memberitahu sejak awal bahwa hasil tes akan dikirim sekitar dua minggu. Jadi kali ini penantian saya lebih jelas, hehe…

6 September 2018, akhirnya score TOEFL iBT saya dikirim via email. Bagi saya, ini email yang paling mendebarkan hati karena langkah saya sudah cukup jauh. Pertaruhannya adalah: jika skor memenuhi syarat program studi Master of E-Government maka tentu saya diterima dan hanya mengikuti refreshment Bahasa Inggris di Surabaya selama dua minggu. Namun jika skor saya sedikit dibawah standar minimum, maka saya kemungkinan diberi kesempatan untuk training Bahasa Inggris selama enam bulan di Surabaya! What? Enam bulan ngekost dan berjauhan dengan isteri serta ketiga puteriku? Tidak. Saya keberatan, bu.

Rasa optimis saya melewati tes Bahasa Inggris itu akhirnya rubuh. Skor writing saya ternyata dibawah standar minimum program Master of E-Government VUW meski melewati skor untuk program Master of Public Policy. Ya, ampun… Cuma skor writing yang kurang. Saya dapat 24 sementara E-Government VUW minta 27. Tanpa pikir panjang, saya kubur keingingan untuk dapat gelar MEGov. Saya kirim permintaan ke MFAT untuk merubah pilihan ke program MPP. Pertimbangan saya banyak: keluarga, usia, waktu, kondisi di kantor, dan lain-lain. Roller coaster kembali menanjak. Saya hanya bisa menunggu jawaban MFAT kemudian MFAT mengirim permintaan Letter of Offer ke VUW dan menunggu lagi jawaban VUW. Sementara itu, foto ikon Kota Wellington yang mirip dengan foto di bawah ini, tetap terpasang sebagai wallpaper di tablet dan laptop saya.

 

_______

Ikuti pengalaman saya naik “roller coaster” di tulisan selanjutnya

Untuk menghubungi saya bisa melalui:

fb: Bergman Siahaan, email: bergmansiahaan@gmail.com

Please follow, like, and share this page:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *